Pembahagian Ibadah Puasa

Salah satu ibadah yang di syariatkan kepada umat nabi Muhammad Saw adalah ibadah puasa. Ibadah  puasa di wajibkan pada tahun ke-2 Hijriah. Ibadah puasa ada yang wajib seperti puasa  ramadhan, puasa nazar dan puasa kifarat da nada juga puasa  sunnah, seperti puasa enam hari bulan syawal, puasa arafah, puasa ‘asyura, puasa bulan haram dan lain-lain. Puasa menurut bahasa adalah imsak yaitu menahan diri dari sesuatu, sedangkan yang di maksud puasa pada syara’ adalah menahan diri dari yang membatalnya dengan syarat tertentu.

Puasa terbagi kepada tiga derajat, yaitu :

  1. Puasa orang ‘awam yaitu puasa yang dilakukan oleh kebanyakan orang yang pada puasa tersebut mereka menahan diri dari makan, minum, jimak, dan segala hal yang dapat membathalkan puasa itu sendiri.
  2. Puasa khawash yaitu puasa yang dilakukan oleh orang yang muttaqin dan shalihin, puasa ini disamping menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkannya juga menjaga segala anggotanya dari berbuat maksiat, makruh dan daripada perbuatan yang sia-sia yang tiada bermanfaat untuk kehidupan akhirat.

Untuk dapat meraih keutamaan dan kesempurnaan puasa seperti pembahagian yang kedua ini, harus memenuhi tujuh syarat :

  1. Memelihara mata dari hal-hal yang diharamkan, dari yang di makruhkan dan dari hal-hal yang mubah yang dapat membimbangkan hati dari zikrullah. Sudah sewajar dikala melakukan ibadah puasa mata itu digunakan untuk melihat Al Quran, kitab, dan dan lain-lain.
  2. Memelihara lidah daripada pembicaraan yang diharamkan, seperti berdusta, mengadu domba, mengupat, mencacimaki orang lain. Dan dari segala perkaataan sia-sia yang tidak bermanfaat. Membaca Al Quran, berzikir, dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, sangat dianjurkan di saat melaksanakan ibadah puasa. Karena hal-hal demikian dapat membuat hati menjadi lembut dan tentram.
  3. Memelihara telinga dari hal-hal yang di haramkan, yang di makruhkan, dan dari hal-hal yang sia-sia yang tiada bermanfaat.
  4. Memelihara kedua tangan dan kedua kaki dari berbuat dan berjalan ketempat yang haram, yang makruh dan dari hal-hal yang sia-sia yang tiada bermanfaat bagi negeri akhirat.
  5. Memelihara perut pada saat berbuka puasa dari makanan yang haram atau makanan syubhat. Berbuka puasa dengan makanan yang haram atau syubhat sama seperti membangun satu istana megah dan menghancurkan sebuah negeri yang besar. Artinya dausa yang di peroleh lebih besar daripada pahala puasanya, bahkan puasa tersebut tidak akan mendapatkan pahala sama sekali.
  6. Memeliara diri dari banyak makan yang halal saat berbuka, karena tujuan daripada puasa adalah menyedikitkan makan, maka faedah yang akan di capai adalah mendhaifkan syahwat nafsu dan syahwat syaithan. Dan juga dapat meringankan tubuh untuk berbuat ibadah, sembahyang tahajud pada waktu malam, dan mudah untuk membaca wirid yang tujuan kesemuanya ini adalah untuk melembutkan dan menerangkan hati.
  7. Menyikapi setiap puasa yang telah di kerjakan pada saat berbuka dengan Khauf yaitu khawatir puasa yang telah di kerjakan tidak diterima oleh Allah Swt. dan Raja’ yaitu mengharap supaya ibadah puasa yang telah di kerjakan di terima oleh Allah Swt. Karena setiap puasa yang telah di kerjakan tidak di ketahui apakah puasa tersebut di terima oleh Allah Swt.
  8. Puasa khawashil khawas yaitu puasa yang di kerjakan orang-orang muqarrabin dan ‘arifin yang mereka menahan hati mereka dari mencita-citakan dunia dan memikirkan dunia itu sendiri. Mereka mengosongkan hati mereka dengan hal keduniaan selain dari Allah Swt. Bila hati mereka bimbang dengan sesuatu selain dari mengingat Allah, maka batallah puasa mereka. Inilah puasa yang di kerjakan oleh para nabi, rasul, dan waliyullah.

Oleh karena demikian marilah kita memperbaiki kwalitas puasa kita agar jangan sampai kita bersusah payah melakukan ibadah puasa tetapi pahalanya tidak kita peroleh, yang kita peroleh hanya lapar dan dahaga saja. Seperti yang tersebut dalam hadist nabi berikut ini :

 

عنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ ».

 

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berapa banyak seorang yang berpuasa tidak ada bagian dari puasanya melainkan lapar dan berapa banyak seorang yang bangun beribadah pada malam hari tidak ada bagiannya dari bangun malamnya kecuali begadang.” HR. Ibnu Majah.

Semoga kita tergolong orang-orang yang selalu mendapat ridha dan keampunan dari Allah swt. Amin ya rabbal ‘alamin.

Salam_Admin

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*