Pendengki Yang Mendapatkan Hadiah

Pada zaman dahulu ada seorang salih yang mendampingi sang raja sambil memberinya petuah petuah berharga. Diantaranya dia berkata : “Berbuat baiklah kepada orang yang berbuat baik  dengan kebaikannya, sebab orang yang jahat akan mendapatkan hukuman oleh keburukannya sendiri ”.

Melihat kedekatan orang salih itu dengan sang raja ada orang jahil yang merasa dengki.  Orang itu lalu mencari jalan supaya orang saleh itu di bunuh oleh raja. Maka orang itu menemui raja dan mengatakan bahwa  “ Orang saleh itu mengatakan bahwa mulut baginda baunya busuk, buktinya pada saat dia di dekat baginda dia selalu menutup hidung dan mulutnya agar tidak tercium bau busuk mulut baginda ”.

Mendengar perkataan orang itu raja menjadi sangat marah dan ingin membuktikan perkataannya. Kemudian orang tersebut keluar dari ruang raja dan langsung menemui orang saleh tersebut dan mengajaknya makan. Makanan yang di suguhnya adalah makanan yang banyak bawang putihnya.

Ketika orang salih itu menghadap raja, seperti biasanya dia menasehati raja, diantaranya nasehatnya itu adalah : ’’Berbuat baiklah kepada orang yang berbuat baik  dengan kebaikannya…. dan seterusnya. Kemudian raja menyuruhnya agar orang salih tersebut duduk lebih dekat dengannya. Orang saleh itu pun menurut dan duduk lebih dekat denagn raja sambil menutup mulut dan hidungnya karena khawatir bau bawang putih yang di makan olehnya tercium oleh raja. Raja kemudian berkata dalam hatinya “ Orang itu benar rupanya “. Kemudian raja menulis surat kepada petugasnya. Biasanya raja tidak menulis sendiri suratnya melainkan surat yang isinya perintah untuk memberikan hadiah. Tetapi kali ini raja menulis dan isinya “ Bila pembawa surat ini datang menemuimu, maka bunuhlah dia dengan seburuknya, dan cingcanglah tubunya dan bawa kepadaku ”.

Kemudian surat itu diberikan kepada orang salih tersebut. Ketika orang salih tersebut keluar membawa surat tadi, ia di cegat oleh si pendengki, lalu di tanyanya “ Apa yang ada di tanganmu itu ? “. Orang salih itu menjawab “ Surat Raja berisi hadiah”.

“ Berikan kepadaku kata si pendengki “

“ Orang salih itu menjawab “ Ambillah “.

Maka surat itu di ambil oleh si pendengki dena di berikan , kepada petugas raja dan di bacanya, maka petuga siru berkata kepadanya :” Dalam surat ini aku harus membunuhmu seburuk-buruknya dan mencincangmu”.

Oh jangan pak, ini bukan sarat saya, tahanlah dulu biar saya menghubungi raja lagi, kata si pendengki itu memelas. Namun petugas menjawab : “Perintah tak bisa di tunda”. Maka akhirnya si pendengki itu langsung di bunuh dengan seburuknya dan di cincang kemudian di berikan kepada raja.

Sedangkan orang salih itu, seperti biasanya dia datang menemui raja dan  memberikan nasehat kepada raja. Raja menjadi heran dan bertanya kepada orang saleh tersebut “Apa yang kau lakukan dengan suratku ?. Orang salih itu menjawab “surat itu di minta oleh si fulan (si Pendengki), lalu saya berikan kepadanya”. Raja bertanya kembali “ orang itu mengatakan bahwa kau menganggap mulutku bau,  apakah itu benar ?. Tidak, saya tidak pernah mengatakan itu kepadanya, bantah orang saleh tersebut.

Tetapi mengapa engkau menutup mulut dan hidung di saat engkau bedekatan dengan ku  ?. Karena dia telah memberikan makan bawang putih, saya tidak mau baginda mencium baunya yang kurang sedap itu”. Jelas si orang salih.

Raja menjawab : “Engkau benar, Kembalilah ketempatmu orang jahat itu telah menerima balasan dari keburukannya sendiri ”.

Dari kisah ini dapat kita ambil pengajaran yang bahwa sifat hasud (Dengki) merupakan suatu penyakit hati yang begitu besar kemudharatannya baik bagi si pendengki itu sendiri maupun bagi orang lain. Maka renungkanlah wahai saudaraku sekalian tentang buruknya sifat hasud ( Dengki ) ini, semoga Allah merahmati kita semua dan menjaga kita dari sifat tercela tersebut.

(Disadur dari kitab Al-Majalisus Saniyyah , Majlis Ke-35 Hal :104)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*